Minggu, 07 Desember 2014

Slenderman (The Pasta)

        Setelah bangun tidur dengan sebuah guncangan, perempuan itu masih terlentang di tempat tidur selama beberapa detik, mencoba untuk menyalakan lampu yang ada disebelah sisi tempat tidurnya, ia mencoba mengingat-ngingat apa yang telah merenggut tidurnya yang nyenyak itu. Saat ia tidak bisa mengingatnya, ia mengayunkan kakinya kesamping tempat tidur dan menghela napas. Mengecek jam lewat hand phone miliknya, ia mendengus ketika tahu bahwaa saat ini tengah malam. Mengetahui bahwa tidur hanya akan mengelakkan nya, ia pun pergi keluar dari kamar nya untuk pergi ke dapur, secangkir kopi yang enak pikirnya.

      Saat ia melawati pintu depan, dingin menyambar ke tulang punggungnya. Ini sedang musim dingin, katanya pada diri sendiri, memfokuskan kembali untuk membuat secangkir kopi. Mengambil sendok, air, dan menyiapkan cangkirnya, kemudian menyeduh kopinya, tidak ada hal yang membuat pikirannya tidak berfikir kemana-mana. Dingin kembali menyambar dan kemudian ia melirik kebelakang ke pintu depan. Pintunya tertutup seperti biasa. Baut-baut masih ada disana dan ia tahu bahwa tidak ada yang salah dengan itu. Beralih kembali ke kopi miliknya, dan berusaha melupakan perasaannya.

     Dengan kopi ditangannya, ia kembali ke tempat tidurnya. Saat ia melangkah dekat pintu depan ia memutuskan untuk mengintip keluar untuk menghilangkan rasa gelisahnya. Hawa dingin semakin menjadi-jadi pada setiap langkah yang ia ambil untuk pergi ke pintu tersebut dan jauh dari selimut miliknya yang hangat. Dia menekan tangannya melawan hawa dingin pintu besi dan mengambil napas dalam-dalam sebelum mengintip keluar.

     Pada awalnya, ia tidak bisa melihat apa-apa karena gelap gulita dan entah bagaimana caranya tampak seperti berputa-putar didalam dirinya. Ketika ia berkedip dengan heran, kekosongan itu membuyar. Ia berharap itu tidak terjadi. Ditempat itu, ia melihat sesosok pria sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Anggota badanya sangat panjang dan tampak aneh, dengan persendian yang bercabang, tetapi tidak bercabang seperti pohon. Makhluk itu mengenakan setelan hitam, entah bagaimana hal itu begitu mengerikan bagi gadis tersebut. Bagaimanapun, wajahnya itu datar tanpa hidung, mulut, ataupun mata, seolah-olah pikirannya mengaburkan wajah makhluk itu untuk cadangan ketegangan dan horor.

     Ia mendorong dirinya menjauh dari pintu dengan masih memegang secangkir kopi. Cangkir kopi itupun terjatuh dan kemudian kopinya pun membakar kaki si gadis tersebut yang berusaha menjauh dari pintu. Ia tahu bahwa pikirannya tidak sedang mengacaukan dirinya. Saat ia berjalan kembali untuk menjauh dari pintu, ia melihat tentakel berwarna hitam, ia pertama kali mengira melihat ular melalui celah-celah pintu. Gadis itu terjebak antara naluri untuk melarikan diri dan firasat berani untuk tidak melarikan diri dari pintu tersebut. Ketika pintu itu diguncang, dorongan untuk melakukan diri mengalahkannya dan membuat ia berlari dan mengabaikan rasa bakar akibat kopi tadi.

     Ia tahu didalam hatinya bahwa ia hanya menjebak dirinya sendiri di sudut ruangan, tapi dia harus menjauh dari pintu. Gadis itu sedang menyusuri lorong ketika ia mendengar pintu yang tadinya terkunci terbuka. ia menjerit dan ia pun menyelip melalui dinding sempit. Dinding itupun melukai dagunya dan menghimpit tubuh sang gadis.

     Setelah itu, hanya ada kegelapan.

----------

     "Nicole?" Suara laki-laki yang hangat membentak gadis itu dari tidurnya. Saat ia berbalik, ia bertemu dengan salah satu dokter adiknya itu. Dia mengangguk, tidak yakin apakah ia harus berkata sesuatu, atau bahkan apakah ia masih punya suara dan dapat mengatakan sebuah kata. Pagi itu, ia sudah mendapatkan telepon dari rumah sakit, mengatakan bahwa adiknya, Lindsay, ada disana. Sebelum mereka memberikan izin untuk mempertemukan mereka, Dokter telah menariknya kesamping dan bersikeras bahwa mereka berbicara dengannya tentang apa yang mungkin terjadi. Frase seperti 'Self-infected' dan Nicole pun merasa pening akan pikirannya.

     Ia masih belum sepenuhnya mengerti apa yang mereka katakan sampai ia melihat Lindsay dengan matanya sendiri. Adiknya memiliki perban yang terlilit dikepalanya, yang meliputi telinga serta matanya. Mereka mengatakan bahwa hal itu untuk menjaga matanya yang sekarang pulas agar tidak kering, dan mencoba untuk menjaga infeksi dari luka Lindsay yang telah sampai di telinganya. Para dokter telah menduga bahwa baik dia ataupun orang lain menduga bahwa Lindsay telah melindungi diri dari sesuatu, kemudian ada luka di tangan dan kakinya, mereka menduga bahwa itu adalah kopi tetangganya yang ditemukan berada tergelincir di depan pintu masuk apartemennya.

     Saat Nichole pertama kali masuk ke kamar rumah sakit adiknya saat pertama kali, ia pikir ia telah melihat seorang pria yang mengenakan setelan hitam berdiri diluar jendela. Ia tahu bahwa itu tidak mungkin, apalagi kamar adiknya itu ada di lantai tiga rumah sakit.

 Catatan: jika ada yang mau copas tambahkan link asli karena menerjemahkan bukanlah hal yang mudah :)

www.creepysoldier.blogspot.com

Tidak ada komentar: